Me'

Me'
Jogyakarta

Rabu, 19 Oktober 2011

Makalah Spina Bifida

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasiI konsepsi sel telur. Kelainan kongenital dapat merupakan sebab penting terjadinya abortus, lahir mati atau kematian segera setelah lahir. Kematian bayi dalam bulan-bulan pertama kehidupannya sering diakibatkan oleh kelainan kongenital yang cukup berat, hal ini seakan-akan merupakan suatu seleksi alam terhadap kelangsungan hidup bayi yang dilahirkan. Bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongenitaI besar, umumnya akan dilahirkan sebagai bayi berat lahir rendah bahkan sering pula sebagai bayi kecil untuk masa kehamilannya. Bayi berat lahir rendah dengan kelainan kongenital berat, kira-kira 20% meninggal dalam minggu pertama kehidupannya.
Disamping pemeriksaan fisik, radiologik dan laboratorik untuk menegakkan diagnose kelainan kongenital setelah bayi lahir, dikenal pula adanya diagnosisi pre/- ante natal kelainan kongenital dengan beberapa cara pemeriksaan tertentu misalnya pemeriksaan ultrasonografi, pemeriksaan air ketuban dan darah janin. Penyebab langsung kelainan kongenital sering kali sukar diketahui. Pertumbuhan embryonal dan fetaI dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti faktor genetik, faktor lingkungan atau kedua faktor secara bersamaan. Banyak kelainan kongenital yang tidak diketahui penyebabnya. Faktor janinnya sendiri dan faktor lingkungan hidup janin diduga dapat menjadi faktor penyebabnya. Masalah sosial, hipoksia, hipotermia, atau hipertermia diduga dapat menjadi faktor penyebabnya. Seringkali penyebab kelainan kongenitai tidak diketahui. Salah satu kelainan congenital yang sering terjadi adalah meningokel.
Angka kejadiannya adalah 3 di antara 1000 kelahiran. Terjadi karena adanya
defek pada penutupan spina yang berhubungan dengan pertumbuhan yang tidak normal korda spinalis atau penutupnya. Biasanya terletak di garis tengah. Meningokel biasanya terdapat di daerah servikal atau daerah torakal sebelah atas. Kantong hanya berisi selaput otak, sedangkan korda tetap dalam korda spinalis (dalam durameter tidak terdapat saraf).
B. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak 1. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami apa yang dimaksud dengan Maningokel dan dapat memberikan Asuhan Keperawatan yang sesuai.
b. Tujuan Khusus
Agar para pembaca mengetahui dan memahami apa yang dimaksud dengan Maningokel dan bisa memberikan Asuhan Keperawatan yang sesuai dengan standar keperawatan yang telah ditentukan.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Medis
1. Pengertian
Meningokel adalah penonjolan dari pembungkus medulla spinalis melalui spina bifida dan terlihat sebagai benjolan pada permukaan. Pembengkakan kistis ini ditutupi oleh kulit yang sangat tipis. Pada kasus tertentu kelainan ini dapat dikoreksi dengan pembedahan. Pembedahan terdiri dari insisi meningokel dan penutupan dura meter. Kemudian kulit diatas cacat ditutup. Hidrosefalus kemungkinan merupakan komplikasi yang memerlukan drainase. (Prinsip Keperawatan Pediatric, Rosa M. sachrin. Hal-283).
Meningokel merupakan kelainan kongenital SSP yang paling sering terjadi. Biasanya terletak di garis tengah. Meningokel biasanya terdapat di daerah servikal atau daerah torakal sebelah atas. Kantong hanya berisi selaput otak, sedangkan korda tetap dalam korda spinalis (dalam durameter tidak terdapat saraf). Tidak terdapat gangguan sensorik dan motorik. Bayi akan menjadi normal sesudah operasi. (IKA-FKUI. Hal-1136).
Spina bifida dimanifestasikan pada hampir semua kasus disrafisme spinal yang merupakan terminologi untuk kelompok kelainan spinal yang umumnya menunjukkan ketidaksempurnaan menutupnya jaringan mesenkim, tulang dan saraf di garis tengah. . (Buku Ajar Neurologi Anak. Hal-144)
Pembagian disrafisme spinal antara lain:
a. Spina bifida okulta Defek terdapat pada arkus vertebrata tanpa herniasi jaringan.
b. Meningokel spinalis Defek pada durameter dan arkus spinalis. Herniasi jaringan saraf spinalis atau sebagian medulla spinalis.
c. Meningomielokel Kantung herniasi terdiri dari leptomeningen, cairan, jaringan saraf berupa serabut spinalis atau sebagian medulla spinalis.
d. Mielomeningosistokel Kantung terdiri dari leptomeningen, cairan cerebrospinal, serabut saraf yang membenntuk kista berisi cairan yang berhubungan dengan kanalis sentralis.
e. Rakiskisis spinal lengkap Tulang belakang terbuka seluruhnya
2. Etiologi/ Penyebab
Penyebab spesifik dari meningokel atau spina bifida belum diketahui. Banyak factor seperti keturunan dan lingkungan diduga terlibat dalam terjadinya defek ini. Tuba neural umumnya lengkap empat minggu setelah konsepsi. Hal-hal berikut ini telah ditetapkan sebagai faktor penyebab; kadar vitamin maternal rendah, termasuk asam folat: mengonsumsi klomifen dan asam valfroat: dan hipertermia selama kehamilan. Diperkirakan hampir 50% defek tuba neural dapat dicegah jika wanita bersangkutan meminum vitamin-vitamin prakonsepsi, termasuk asam folat. (buku saku keperawatan pediatric e/3 [Cecila L. Betz & Linda A. Sowden.2002] hal-468)
Kelainan konginetal SSP yang paling sering dan penting ialah defek tabung neural yang terjadi pada 3-4 per 100.000 lahir hidup. Bermacam-macam penyebab yang berat menentukan morbiditas dan mortalitas, tetapi banyak dari abnormalitas ini mempunyai makna klinis yang kecil dan hanya dapat dideteksi pada kehidupan lanjut yang ditemukan secara kebetulan. (Patologi Umum Dan Sistematik Vol 2, J.C.E. Underwood. 1999. hal-885)
3. Gambaran Klinis
Akibat spina bifida, terjadi sejumlah disfungsi tertentu pada rangka, kulit dan saluran genitourinari akibat spina bifida, tetapi tergantung pada bagian medulla spinalis yang terkena. Pada meningokel dapat ditemukan:
a. Kantong herniasi CSS yang dapat dilihat pada daerah lumbosakral
b. Hidrosefalus.
4. Patofisiologi
Ada dua jenis kegagalan penyatuan lamina vertebrata dan kolumna spinalis: spina bifida okulta dan spina bifida sistika. Spina bifida okulta adalah defek penutupan dengan meninges tidak terpajan di permukaan kulit. Defek vertebralnya kecil, umumnya pada daerah lumbosakral.
Spina bifida sistika adalah defek penutupan yang menyebabkan penonjolan medula spinalis dan pembungkusnya. Meningokel adalah penonjolan yang terdiri dari meningens dan sebuah kantong berisi cairan serebrospinal (CSS): penonjolan ini tertutup kulit biasa. Tidak ada kelainan neurologi, dan medulla spinalis tidak terkena. Hidrosefalus terdapat pada 20% kasus spina bifida sistika. Meningokel umumnya terdapat pada lumbosakral atau sacral.
Mielomeningokel adalah penonjolan meninges dan sebagian medulla spinalis, selain kantong berisi CSS. Daerah lumbal atau lumbosakral terdapat pada 42% kasus; torakolumna pada 27 kasus, sacral 21% kasus; dan torakal atau servikal pada 10% kasus. Bayi dengan mielomeningokel mudah terkena cedera selama proses kelahiran. Hidrosefalus terdapat pada hampir semua anak yang menderita spina bifida (85% sampai 90%);kira-kira 60% sampai 70% tersebut memiliki IQ normal. Anak dengan mielomeningokel dan hidrosefalus menderita malformasi system saraf pusat lain, dengan deformitas Arnold-Chiari yang paling umum.
Penyebab spesifik dari meningokel atau spina bifida belum diketahui. Banyak factor seperti keturunan dan lingkungan diduga terlibat dalam terjadinya defek ini. Tuba neural umumnya lengkap empat minggu setelah konsepsi. Halhal berikut ini telah ditetapkan sebagai faktor penyebab; kadar vitamin maternal rendah, termasuk asam folat: mengonsumsi klomifen dan asam valfroat: dan hipertermia selama kehamilan. Diperkirakan hampir 50% defek tuba neural dapat dicegah jika wanita bersangkutan meminum vitamin-vitamin prakonsepsi, termasuk asam folat. (buku saku keperawatan pediatric e/3 [Cecila L. Betz & Linda A. Sowden.2002] hal-468).
Banyak ahli percaya bahwa defek primer pada NTD (neural tube defect) merupakan kegagalan penutupan tuba neural selama perkembangan awal embrio. Akan tetapi, ada bukti bahwa defek ini merupakan akibat dari pemisahan tuba neural yang sudah menutup karena peningkatan abnormal tekanan cairan serebrospinal selama trimester pertama. Derajat disfungsi neurologik secara lansung berhubungan dengan level anatomis defek tersebut dan saraf-saraf yang terlibat. Kebanyakan mielomeningokel melibatkan area lumbal atau lumbosakral, dan hidrosefalus merupakan anomali yang sering menyertainya (90% sampai 95%). (buku ajar keperawatan pediatrik, Donna L. Wong. Hal-1425)
Pembedahan dilakukan secepatnya pada spina bifida yang tidak tertutup kulit, sebaiknya dalam minggu pertama setelah lahir. Kadang-kadang sebagai akibat eksisi meningokel terjadi hidrosefalus sementara atau menetap, karena permukaan absorpsi CSS yang berkurang.
Kegagalan tabung neural untuk menutup pada hari ke-28 gestasi, atau kerusakan pada strukturnya setelah penutupan dapat dideteksi in utero dengan pemeriksaan ultrasonogrfi. Pada 90% kasus, kadar alfa-fetoprotein dalam serum ibu dan cairan amnion ditemukan meningkat; penemuan ini sering digunakan sebagai prosedur skrining. Keterlibatan baik kranial maupun spinal dapat terjadi; terminology spina bifida digunakan pada keterlibatan spinal, apabila malformasi SSP disertai rachischisis maka terjadi kegagalan lamina vertebrata. (Patologi Umum Dan Sistematik Vol 2, J.C.E. Underwood. 1999. hal-885).
Posisi tengkurap mempengaruhi aspek lain dari perawatan bayi. Misalnya, posisi bayi ini, bayi lebih sulit dibersihkan, area-area ancaman merupakan ancaman yang pasti, dan pemberian makanan menjadi masalah. Bayi biasanya diletakkan di dalam incubator atau pemanas sehingga temperaturnya dapat dipertahankan tanpa pakaian atau penutup yang dapat mengiritasi lesi yang rapuh. Apabila digunakan penghangat overhead, balutan di atas defek perlu sering dilembabkan karena efek pengering dari panas yang dipancarkan.
Sebelum pembedahan, kantung dipertahankan tetap lembap dengan meletakkan balutan steril, lembab, dan tidak lengket di atas defek tersebut. Larutan pelembab yang dilakukan adalah salin normal steril. Balutan diganti dengan sering (setiap 2 sampai 4 jam). Dan sakus tersebut diamati dengan cermat terhadap kebocoran, abrasi, iritasi, atau tanda-tanda infeksi. Sakus tersebut harus dibersihkan dengan sangat hati-hati jika kotor atau terkontaminasi. Kadangkadang sakus pecah selama pemindahan dan lubang pada sakus meningkatkan resiko infeksi pada system saram pusat.
Latihan rentang gerak ringan kadang-kadang dilakukan untuk mencegah kontraktur, dan meregangkan kontraktur dilakukan, bila diindikasikan. Akan tetapi latihan ini dibatasi hanya pada kaki, pergelangan kaki dan sendi lutut. Bila sendi panggul tidak stabil, peregangan terhadap fleksor pinggul yang kaku atau otot-otot adductor, mempererat kecenderungan subluksasi.
Penurunan harga diri menjadi ciri khas pada anak dan remaja yang menderita keadaan ini. Remaja merasa khawatir akan kemampuan seksualnya, penguasaan social, hubungan kelompok remaja sebaya, dan kematangan serta daya tariknya. Beratnya ketidakmampuan tersebut lebih berhubungan dengan persepsi diri terhadap kemampuannya dari pada ketidakmampuan yang sebenarnya ada pada remaja itu.
5. Deteksi Prenatal
Terdapat kemungkinan untuk menentukan adanya beberapa NTD terbuka selama masa prenatal. Pemindaian ultrasuara pada uterus dan peningkatan konsentrasi alfafetoprotein (AFP), suatu gamma, globulin yang spesifik pada fetus, dalam cairan amnion mengindikasikan adanya arensefali atau
Mielomeningokel. Waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan diagnostic ini adalah pada usia gestasi 16 dan 18 minggu, sebelum konsentrasi AFP yang normalnya menurun, dan pada saat yang tepat untuk melakukan aborsi terapeutik. Pengambilan sampel virus koronik (chorionic villus sampling, CVS) juga merupakan pemeriksaan untuk diagnostik NTD pada masa prenatal.
Prosedur diagnostic di atas direkomendasikan untuk semua ibu yang telah melahirkan anak dengan gangguan ini dan dan pemeriksaan ditawarkan bagi semua wanita hamil. Selain itu, rencana kelahiran dengan sesar dapat menurunkan disfungsi motorik. (buku ajar keperawatan pediatrik, Donna L. Wong. Hal-1425)
6. Penatalaksanaan Medis dan Bedah
Pembedahan mielomeningokel dilakukan pada periode neonatal untuk mencegah rupture. Perbaikan dengan pembedahan pada lesi spinal dan pirau CSS pada bayi hidrosefalus dilakukan pada saat kelahiran. Pencangkokan kulit diperlakukan bila lesinya besar. Antibiotic profilaktik diberikan untuk mencegah meningitis. Intervensi keperawatan yang dilakukan tergantung ada tidaknya disfungsi dan berat ringannya disfungsi tersebut pada berbagai system tubuh. y y Untuk spina bifida okulta atau maningokel tidak diperlukan pengobatan Perbaikan mielomeningokel, dan kadang-kadang meningokel, secara bedah diperlukan y Apabila dilakukan perbedahan secara bedah, maka perlu dipasang suatu pirau (shunt) untuk memungkinkan drainase CSS dan mencegah timbulnya hidrosefalus dan peningkatan tekanan intrakranium y Seksio sesarae terencana, sebelum melahirkan, dapat mengurangi kerusakan neurologis yang terjadi pada bayi dengan defek korda spinalis





7. Penyimpangan KDM






























B. Konsep Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
a. Anamnesa :
a) Identitas bayi.
b) Identitas ibu
b. Riwayat kehamilan ibu.
Kadar alfa-fetoprotein dalam serum ibu dan cairan amnion ditemukan meningkat pada usia 16-18 minggu 4. Riwayat kelahiran. Seksio sesarae terencana atau normal
c. Riwayat Keluarga.
Anak sebelumnya menderita spina bifida
d. Riwayat atau adanya faktor resiko
Jenis kelamin laki-laki
2. Pemeriksaan Fisik.
Observasi adanya manifestasi mielomeningokel
a) Kantong yang dapat dilihat
b) Gangguan sensori biasanya disfungsi motorik parallel
1) Di bawah vertebra lumbal kedua
• Flaksid, paralis parsial arefleksik pada ekstremitas bawah
• Berbagai derajat defisit sensori
• Inkontenensia aliran berlebihan dengan penetesan urin konstan
• Kurang kontrol defikasi
• Prolapsus rektal (kadang-kadang)
2) Di bawah vertebra sakrum ketiga.
• Tidak ada kerusakan motorik.
• Dapat berupa anestesia sadel dengan paralis sfingter kandung kemih dan sfingter anus.


3) Deformitas sendi (terkadang terjadi di uterus).
• Talipes valgus atau kontraktur varus.
• Kifosis
• Skoliosis lumbosakral
• Dislokasi pinggul
c) Lakukan atau bantu dengan pemeriksaan neurologis untuk menentukan tingkat kerusakan motorik dan sensorik
d) Inspeksi mielomeningokel untuk adanya perubahan pada penampilan, sebagai contoh, abrasi, robekan, tanda-tanda infeksi.
e) Observasi adanya tanda-tanda hidrosefalus.
f) Observasi adanya tanda-tanda alergi lateks .
g) Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian.
h) Radiologi.
i) Tomografi
3. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif.
b. Resiko tinggi trauma berhubungan dengan lesi spinal
c. Resiko tinggi trauma berhubungan dengan kerusakan sirkulasi cairan serebrospinal
d. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan pemajanan berulang pada produk lateks dan alergi lateks
e. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan sekunder akibat peningkatan tekanan intrakranial .
f. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perubahan emosi pada semua anggota keluarga yang berkaitan dengan pengobatan atau sakitnya anggota keluarga
g. Resiko tinggi penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif berhubungan dengan ketidaktahuan tentang pengobatan atau teknik
h. Risiko hambatan kedekatan orang tua-bayi berhubungan dengan hambatan untuk menggendong sekunder akibat pemantauan pada perawatan intensif
i. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan imobilitas sekunder akibat reposisi tidak efektif
j. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat.
4. Intervensi Keperawatan
a. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif.
Tujuan : Pasien mengalami penurunan risiko terhadap infeksi system saraf pusat dengan Kriteria hasil Hasil yang di harapkan kantong meningeal tetap bersih, utuh, dan tidak menunjukkan buktibukti infeksi
Intervensi / rasional
1) Posisikan bayi untuk mencegah kontaminasi urin dan feses
2) Bersihkan mielomeningokel dengan cermat menggunakan salin normal steril bila bagian ini menjadi kotor atau terkontaminasi.
3) Berikan balutan steril dan lembab dengan larutan steril sesuai instruksi (salin normal, antibiotik) untuk mencegah pengeringan kantong.
4) Berikan antibiotik sesuai resep Pantau dengan cermat tanda-tanda infeksi (peningkatan suhu, peka rangsang, latergi, kaku kuduk) untuk mencegah keterlambatan pengobatan dalam pengobatan
5) Berikan perawatan serupa untuk sisi operatif pada paskaoperasi.
b. Resiko tinggi trauma berhubungan dengan lesi spinal
Tujuan : Pasien tidak mengalami trauma pada sisi bedah/lesi spinal dengan criteria hasil Kantong meningeal tetap utuh Sisi pembedahan sembuh tanpa trauma
Intervensi keperawatan/ Rasional
1) Rawat bayi dengan cermat untuk mencegah kerusakan pada kantong meningeal atau sisi pembedahan
2) Gunakan alat pelindung di sekitar kantong missal; selimut plastic bedah, potong sesuai ukuran dan sesuai ukuran dan tempelkan dibawah kantong di samping sacrum dan selimuti dengan longgar untuk memberikan lapisan pelindung
3) Modifikasi aktifitas keperawatan rutin (misal; member makan, merapikan tempat tidur, aktifitas kenyamanan) untuk mencegah trauma
c. Risiko tinggi trauma berhubungan dengan kerusakan sirkulasi cairan serebrospinal
Sasaran: pasien tidak mengalami tekanan intracranial, dengan criteria hasil tekanan intracranial dan hidosefalus terdeteksi dini, dan intervensi yang tepat diimplementasikan.
Intervensi keperawatan/rasional
1) Ukur lingkaran oksifitoprontal setiap hari untuk mendeteksi peningkatan tekanan intracranial dan terjadinya hidrosefalus.
2) Observasi adanya tanda-tanda peningkatan intracranial, yang menunjukkan terjadinya hidrosefalus., Peka rangsang, Latergi Bayi, Menangis bila diangakat atau digendong: diam bila tetap berbaring, Peningkatan lingkar oksipitofrontal, Peregangan sutura, Perubahan tingkat kesadaran Anak, Sakit kepala (khusus di pagi hari), Apatis Konfusi.
d. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan pemajanan berulang pada produk lateks dan alergi lateks
Tujuan : Pasien mengalami pemajanan minimum pada lateks dengan criteria hasil Anak tidak mengalami reaksi alergi terhadap lateks
. Intervensi keperawatan/rasional
1) Identifikasi anak dengan alergi lateks Jaga agar lingkungan bebas lateks untuk menurunkan pemajanan
2) Ajari anggota keluarga dan pemberi perawatan lain (mis., pekerja perawatan sehari, guru) tentang hal-hal berikut:
3) Risiko alergi lateks dan hal-hal yang harus dihindari untuk menurunkan pemajanan
4) Tanda-tanda alergi (dari gatal-gatal, ruam, dan mengi pada anafilaktik) untuk mendeteksi reaksi dengan cepat
5) Tindakan kedaruratan, termasuk penggunaan kit anafilaktik dan memanggil pelayanan medis darurat, untuk mencegah keterlambatan tindakan.
e. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan sekunder akibat peningkatan tekanan intracranial
Tujuan : pasien tidak mengalami deformitas ekstremitas bawah dan panggul atau resiko pasien terhadap hal tersebut minimal dengan criteria hasil Ekstremitas mempertahankan fleksibelitasnya Panggul dan ekstremitas bawah dipertahankan pada artikulasi dan kesejajaran yang benar.
Intervensi keperawatan/rasional
1) Lakukan latihan rentang gerak pasif untuk mencegah kontraktur; jangan memaksakan suatu titik tahanan untuk mencegah trauma
2) Lakukan peregangan otot bila diindikasikan untuk mencegah kontraktur
3) Pertahankan panggul pada abduksi ringan sampai sedang untuk mencegah dislokasi, jaga agar kaki tetap berada pada posisi netral untuk mencegah kontraktur
4) Gunakan gulungan popok, bantalan, bantal pasir kecil, atau alat yang dirancang khusus untuk mempertahankan posisi yang diinginkan
f. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perubahan emosi pada semua anggota keluarga yang berkaitan dengan pengobatan atau sakitnya anggota keluarga
Tujuan : Anggota keluarga mempertahankan sistem fungsi dukungan mutual satu sama lain dengan Kriteria hasil Ansietas keluarga berkurang yang berhubungan dengan ketakutan karena ketidaktahuan, ketakutan karena kehilangan control emosi..


Intervensi keperawatan/rasional
1) Beri dukungan emosional kepada orang tua Bantu keluarga dalam menghadapi kekhawatirannya terhadap situasi.
2) Ciptakan lingkungan rumah sakit yang bersifat pribadi dan mendukung untuk keluarga
3) Libatkan anggota keluarga dalam perawatan anggota keluarganya yang sakit bila memungkinkan (member makan, memandikan, memakai baju, ambulasi)
4) Bantu anggota keluarga mengubah harapan anggota keluarga yang sakit dengan sikap realistis.
g. Resiko tinggi penatalaksanaan program terapiutik tidak efektif berhubungan dengan ketidaktahuan tentang pengobatan atau teknik dan ketidakcukupan pengetahuan
Tujuan: Keluarga mengungkapkan maksud untuk melakukan perilaku kesehatan yang diperlukan atau keinginan untuk pulih dari penyakit dan pencegahan kekambuhan atau komplikasi. dengan criteria hasilAnsietas keluarga berkurang yang berhubungan dengan ketakutan karena ketidaktahuan, ketakutan karena kehilangan kontrol Anggota keluarga dapat menggambarkan proses penyakit, penyebab dan factor penunjang pada gejala, dan regimen untuk penyakit atau control gejala.
Intervensi keperawatan/rasional
1) Dapatkan jalan masuk ke dalam system keluarga, jangan mengambil alih.
2) Hindari kesan memaksa Dengarkan untuk mengetahui kesesuaian antara kekhawatiran, hindari memberi harapan
3) Upayakan untuk mengetahui kesesuaian antara kebutuhan yang diungkapkan dengan layanan yang diberikan perawat.
4) Gali dengan orang tua tentang penatalaksanaan masalah yang telah berhasil pada masa lalu untuk meningkatkan percaya diri.
5) Kumpulkan ekspresi tentang perasaan, keperhatinan, dan pertanyaan dari individu dan keluarga untuk mengetahui tingkat pengetahuan keluarga
6) Beri dorongan keluarga untuk mencari informasi dan membuat keputusan berdasarkan informasi untuk meningkatkan sikap positif dan partisipasi aktif keluarga.
h. Risiko hambatan kedekatan orang tua-bayi berhubungan dengan hambatan untuk menggendong sekunder akibat pemantauan pada perawatan intensif.
Tujuan : Mendemonstrasikan peningkatan perilaku kedekatan, seperti menggendong bayi dengan dekat, tersenyum dan bicara pada bayi, dan mencari kontak mata dengan bayi dengan criteria hasil Orang tua mulai mengungkapkan perasaan positif mengenai bayi.
Intervensi keperawatan/rasional
1). Izinkan orang tua untuk melihat dan menyentuh bayi sebelum dipindahkan
2). Anjurkan kunjungan dini untuk ibu bila mungkin, buat hubungan telefon yang sering dengan pemberi perawatan bayi bila kunjungan tidak memungkinkan.
i. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan imobilitas sekunder akibat reposisi tidak efektif.
Tujuan : Individu menunjukkan integritas kulit bebas dekubitus
Intervensi keperawatan/rasional
1). Ubah posisi individu untuk berbalik atau mengangkat berat badannya setiap 30 menit sampai 2 jam untuk penurunan takanan pada kulit
2). Instruksikan keluarga tentang teknik spesifik yang digunakan dirumah untuk mencegah dekubitus

j. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat.
Tujuan : Membantu terpenuhinya kebutuhan nutrisi dengan krtiteria hasil Dapat mempertahankan berat badan dalam batas normal normal.
Intervensi keperawatan/rasional.
1) Beri dosis sedikit tetapi sering
2) Pasang infuse
3) Kolaborasi dengan ahli gizi dalam menentukan jumlah intake makanan bayi.
5. Implementasi
a. Minimalkan resiko infeksi pada sebelum dan sesdah operasi
b. Jaga pasien tidak mengalami trauma pada sisi bedah/lesi spinal.
c. Deteksi dini tanda-tanda peningkatan tekanan intra cranial.
d. Minimalkan pemajanan lateks
e. Pertahankan asupan nutrisi dan cairan
f. Pantau adanya tanda dan gejala infeksi
g. Lakukan perawatan luka operasi: gunakan teknik steril ketika mangganti dan menguatkan balutan
h. Ajarkan pada orang tua tentang pelaksanaan pelatihan jangka panjang
i. Beri informasi pada orang tua tentang teknik-teknik yang memfasilitasi mobilitas dan kemandirian
j. Beri pendidikan pada orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan normal serta penyimpangan-penyimpangannya dari normal.
6. Evaluasi
a. Apakah anak terhidrasi dengan baik dan mempertahankan berat badannya
b. Apakah anak bebas dari infeksi.
c. Apakah Anak dan orang tua menunjukkan kemampuan untuk melaksanakan perawatan jangka panjang di rumah dan bebas dari komplikasi.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasiI konsepsi sel telur. Kelainan kongenital dapat merupakan sebab penting terjadinya abortus, lahir mati atau kematian segera setelah lahir. Kematian bayi dalam bulan-bulan pertama kehidupannya sering diakibatkan oleh kelainan kongenital yang cukup berat.
Meningokel merupakan kelainan kongenital SSP yang paling sering terjadi. Biasanya terletak di garis tengah. Meningokel biasanya terdapat di daerah servikal atau daerah torakal sebelah atas. Kantong hanya berisi selaput otak, sedangkan korda tetap dalam korda spinalis (dalam durameter tidak terdapat saraf). Tidak terdapat gangguan sensorik dan motorik. Bayi akan menjadi normal sesudah operasi.
B. Saran
Deteksi dini dan pencegahan pada awal kehamilan dianjurkan untuk semua ibu yang telah melahirkan anak dengan gangguan ini dan dan pemeriksaan ditawarkan bagi semua wanita hamil.


DAFTAR PUSTAKA

Doenges Marillyn E,dkk. 2000 Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3..Jakarta: EGC.
Nelson. Ilmu Kesehatan Anak Bag. 3. EGC: Jakarta.
Sacharin, Rosa M.1986.Prinsip Kepeawatan Pediatrik.Jakarta:EGC
Wong , Donna L. 2004. Pedoman klinis keperawatan Pediatrik Edisi 4 . Jakarta:EGC
http://medicastore.com/penyakit/915/Spina_Bifida_Sumbin
Rizqi Hajar Dewi. 2010. Asuhan Keperawatan Anak Spina Bifida Dengan Meningokel.http://www.scribd.com/doc/30381861/Asuhan-Keperawatan-Spina-Bifida-Dengan-Meningokel?secret_password=&autodown=docx. 01 Mei 2010.

Makalah Bayi Prematur/BBLR

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Periode segera setelah lahir merupakan awal dari kehidupan yang tidak menyenangkan bagi bayi. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan antara lingkungan kehidupan sebelumnya dan sekarang.
Bagi bayi prematur atau bayi yang lahir disertai penyulit atau komplikasi, tentunya proses adaptasi ini akan menjadi lebih sulit untuk dilaluinya. Bahkan, seringkali menjadi pemicu timbulnya komplikasi lain yang menyebabkan bayi tersebut tidak mampu melanjutkan kehidupan ke fase lanjut (meninggal).
Bayi berat badan lahir rendah atau prematur mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita sakit atau kematian daripada bayi lain. Oleh karenanya, diperlukan pengawasan ekstra yang dilakukan beberapa jam sampai beberapa hari setelah bayi itu dilahirkan.
Penilaian dan tindakan pada bayi berat badan lahir rendah sangatlah penting karena dapat mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada bayi yang dapat menimbulkan cacat atau kematian.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk meningkatkan pengetahuan pembaca mengenai bayi berat badan lahir rendah (BBLR)
2. Pembaca mengetahui dan mampu mengaplikasikan bagaimana penatalaksanaan maupun rencana asuhan keperawatan yang dapat diberikan terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR)






BAB II
ISI
A. Definisi
Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) dapat dikelompokkan menjadi :
1. Bayi Prematur atau Bayi Pre-Term
Bayi yang berumur kehamilan 37 minggu tanpa memperhatikan berat badan. Sebagian besar bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram adalah bayi prematur.
Menurut WHO, bayi prematur adalah bayi lahir hidup sebelum usia kehamilan minggu ke-37 (dihitung dari hari pertama haid terakhir). The American Academy Of Pediatric, mengambil batasan 38 minggu untuk menyebut prematur.
2. Bayi Dismatur
Bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk masa kehamilannya, yaitu berat badan dibawah persentil 0 pada kurva pertumbuhan intra uterin, bisa disebut dengan bayi kecil untuk masa kehamilan.
B. Etiologi
Ada tiga faktor yang menjadi penyebab kelahiran bayi BBLR, yakni :
1. Faktor ibu
a. Toksemia gravidarum, yaitu preeklampsi dan eklampsi
b. Kelainan bentuk uterus (misalnya uterus bikornis, inkompeten serviks)
c. Tumor (misalnya mioma utery, sistoma)
d. Ibu yang menderita penyakit antara lain :
1) Akut dengan gejala panas tinggi (misalnya tifus abdominalis, malaria)
2) Kronis (misalnya TBC, penyakit jantung, gromerulonefritis kronis)
e. Trauma pada masa kehamilan antara lain :
1) Fisik (misalnya jatuh)
2) Psikologis (misalnya stress)
f. Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
2. Faktor janin
a. Kehamilan ganda
b. Hidramnion
c. Ketuban pecah dini
d. Cacat bawaan
e. Infeksi (misalnya rubeoll, sifilis, toksoplasmosis)
f. Insufisiensi plasenta
g. Inkomptibilitas darah ibu dan janin ( faktor Rhessus, golongan darah A, B dan O)
3. Faktor plasenta
a. Plasenta previa
b. Solutio plasenta
C. Manifestasi Klinis
Tanda klinis atau penampilan yang tampak sangat bervariasi, bergantung pada usia kehamilan saat bayi dilahirkan. Makin prematur atau makin kecil umur kehamilan saat dilahirkan makin besar pula perbedaannya dengan bayi yang lahir cukup bulan.
Adapun tanda dan gejala dari bayi prematur adalah :
1. Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu
2. Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram
3. Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm
4. Kuku panjangnya belum melewati ujung jari
5. Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas
6. Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm
7. Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm
8. Rambut lnugo (bulu-bulu halus) masih banyak
9. Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang
10. Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga seolah-olah tidak teraba tulang rawan daun telinga
11. Tumit mengkilap dan telapak kaki halus
12. Alat kelamin pada bayi laki-laki pigmentsi dan ruge pada skrotum kurang. Testis belum turun ke dalam skrotum. Untuk bayi perempuan klitoris menonjol, labia minor belum tertutup oleh labia mayor.
13. Tonus otot lemah, sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah.
14. Fungsi saraf yang belum atau kurang matang, mengakibatkan refleks isap, menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif, dan tangisnya lemah.
15. Jaringan kelenjar mamae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang.
16. Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit.
D. Patofisiologi
Berdasarkan beberapa faktor etiologi yang telah disebutkan, hal itu akan menyebakan gangguan sirkulasi utero plasenta. Akibatnya, akan terjadi insufisiensi plasenta, yang menyebabkan suplai nutrisi dan oksigen ke janin tidak adekuat. Hal ini lama-kelamaan akan menyebabkan gangguan pertumbuhan intra uteri dan lahirlah bayi BBLR.
Neonatus dengan imaturitas pertumbuhan dan perkembangan atau bayi BBLR tidak dapat menghasilkan kalori melalui peningkatan metabolisme. Hal ini disebabkan karena respon menggigil bayi tidak ada atau kurang, sehingga tidak dapat menambah aktivitas. Sumber utama kalori bila ada stress dingin atau suhu lingkungan rendah adalah thermogenesis nonshiver. Sebagai respon terhadap rangsangan dingin, tubuh bayi akan mengeluarkan norepinefrin yang menstimulus metabolisme lemak dari cadangan lemak coklat untuk menghasilkan kalori yang kemudian dibawa oleh darah ke jaringan. Stres dingin dapat menyebabkan hipoksia, metabolisme asidosis dan hipoglikemia. Peningkatan metabolisme sebagai respon terhadap stre dingin akan meningkatkan kebutuhan kalori dan oksigen. Bila oksigen yang tersedia tidak dapat memenuhi kebutuhan, tekanan oksigen berkurang (hipoksia) dan keadaan ini akan menjadi lebih buruk karena volume paru menurun akibat berkurangnya oksigen darah dan kelainan paru (paru yang imatur). Keadaan ini dapat sedikit tertolong oleh haemoglobin fetal (HbF) yang dapat mengikat oksigen lebih banyak sehingga bayi dapat bertahan lebih lama pada kondisi tekanan oksigen yang kurang.
E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada bayi berat badan lahir rendah atau prematur dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Perawatan bayi dalam inkubator
Inkubator adalah suatu alat untuk membantu terciptanya suatu lingkungan yang optimal, denfan demikian dapat terciptanya suatu suhu lingkungan yang normal. Suhu lingkungan yang netral adalah suatu keadaan dimana panas yang dihasilkan dapat mempertahankan suatu suhu tubuh yang tetap.
2. Perawatan post resusitasi
Dilakukan untuk mengatasi terjadinya asfiksia, yang dapat memperburuk keadaan bayi lahir prematur
3. Perawatan bayi dengan terapi sinar
Dalam perawatan ini yang perlu diperhatikan tidak saja terapinya, tetapi juga perangkat yang digunakan. Lampu yang digunakan sebaiknya tidak dipergunakan lebih dari 500 jam, untuk menghindari turunnya energi yang dihasilkan oleh lampu yang dipergunakan.
4. Menyiapkan bayi untuk transfusi tukar
Yang dimaksud dengan transfusi tukar adalah mengeluarkan darah dari tubuh bayi untuk ditukar dengan darah yang tidak sesuai (patologis) untuk mencegah peningkatan kadar bilirubin dalam darah.
5. Menolong bayi dalam keadaan kejang







F. Penyimpangan KDM






























G. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Masalah yang berkaitan dengan ibu
Penyakit seperti hipertensi, toksemia, placenta previa, abrupsio placenta, incompeten servikal, kehamilan kembar, mal nutrisi dan diabetes mellitus. Status social ekonomi yang rendah dan tiadanya perawatan sebelum kelahiran. Riwayat kelahiran premature atau aborsi, penggunaan obat-obatan, seperti alcohol, rokok dan kafein. Riwayat ibu ; umur dibawah 16 tahun atau diatas 35 tahun dan latar belakang pendidikan rendah, jarak kehamilan yang berdekatan, ataupun penyakit hubungan seksual.
b. Bayi pada saat kelahiran
Umur kehamilan biasanya antara 24-37 minggu, rendahnya berat badan pada saat kelahiran, SGA, atau terlau besar di banding umur kehamilan ; berat biasanya kurang dari 2500 gr ; kurus, lapisan lemak subkutan sedikit atau tidak ada ; kepala relative lebih besar disbanding badan, 3 cm lebih besar dibanding lebar dada ; kelainan fisik yang mungkin terlihat ; nilai APGAR pada satu sampai lima menit, 0-3 menunjukkan kegawatan yang parah, 4-6 kegawatan sedang, dan 7-10 normal.
c. Kardiovaskular
Denyut jantung rata-rata 120-160/menit pada bagian apical dengan ritme yang teratur ; pada saat kelahiran, kebisingan jantung terdengar pada seperempat bagian intercostals, yang menunjukkan aliran darah dari kanan ke kiri karena hipertensi atau atelektasis paru.
d. Gastrointestinal
Penonjolan abdomen ; pengeluaran mekonium biasanya terjadi dalam waktu 12 jam; refleks menelan dan menghisap yang lemah ; ketidaknormalan konginetal lain.


e. Integumen
Kulit yang bewarna merah atau merah muda, kekuning-kuningan, sianosis atau campuran bermacam warna ; sedikit vernik kasiosa, dengan rambut lanugo di sekujur tubuh ; kurus, kulit tampak transparan, halus dan mengkilat ; edema yang menyeluruh atau dibagian tertentu yang terjadi pada saat kelahiran, kuku pendek belum melewati ujung jari, rambut jarang atau tidak ada sama sekali, ptekie atau ekimosis.
f. Muskuloskeletal
Tulang kapilago telinga belum tumbuh sempurna, lembut dan lunak ; tulang tengkorak dan tulang rusuk lunak ;gerakan lemah dan tidak aktif atau letargi.
g. Neurologis
Refleks dan gerakan pada tes neurologis tanpa tidak resisten, gerak refleks hanya berkembang sebagian ; menelan, mengisap, dan batuk sangat lemah atau tidak efektif ; tidak ada atau menurunnya tanda neurologis ; mata mungkin menutup atau mengatup apabila umur belum mencapai 25 sampai 26 ; suhu tubuh tidak stabil, biasanya hipotermia ; gemetar, kejang, mata berputar-putar, biasanya bersifat sementara, tetapi mungkin juga ini mengindikasikan adanya kelainan neurologis.
h. Paru
Jumlah pernapasan rata-rata antara 40 sampai 60 permenit diselingi dengan apnea ; pernapasan tidak teratur, dengan laring nasal (nasal melebar), dengkuran, retraksi (interkostal, suprasternal, substernal) ; terdengar gemerisik.
i. Ginjal
Berkemih terjadi setelah 8 jam kelahiran ; ketidak mamapuan untuk melarutkan ekskresi kedalam urin.


j. Reproduksi
Bayi perempuan; Clitoris yang menonjol dengan labia minora yg belum berkembang; bayi laki-laki: skrotum yg belum berkembang sempurna dengan ruga yang kecil. Testis tidak turun ke skrotum.
k. Sikap
Tangis yang lemah, tidak aktif dan tremor.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Pola nafas tak efektif b/d ketidakmatangan paru karena kurangnya produksi surfaktan
b. Kerusakan pertukaran gas b/d ketidakadekuatan kadar surfaktan, imaturitas otot arteriol pulmonal, SSP dan sistem neuromuskular.
c. Resti hipotermia atau hipertermia b/d perubahan suhu lingkungan
d. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d simpanan glikogen, zat besi dan kalsium tidak cukup, metabolisme yang tinggi, hilangnya kalori dan asupan kalori yang tidak adekuat.
e. Resti injuri b/d retardasi pertumbuhan intra uteri
3. Intervensi Keperawatan dan Rasional
a. Resti pola nafas tak efektif b/d ketidakmatangan paru karena kurangnya produksi surfaktan.
1) Tujuan : Menjaga dan memaksimalkan fungsi paru
2) Intervensi dan Rasional
- Kaji pola pernafasan dan frekuensi pernafasan
Membantu dalam membedakan periode perputaran pola pernafasan normal dari serangan apnea
- Posisikan bayi pada abdomen atau posisi telentang dengan gulungan popok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperekstensi
Posisi ini dapat memudahkan pernafasan dan menurunkan periode apneik
- Pertahankan suhu tubuh optimal
Peningkatan atau oenurunan suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea
- Berikan rangsang taktil segera bila terjadi apnea
Merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernafasan spontan
b. Kerusakan pertukaran gas b/d ketidakadekuatan kadar surfaktan, imaturitas otot arteriol pulmonal, SSP dan sistem neuromuskular.
1) Tujuan : mempertahankan kadar PO2/PCO2 dalam batas normal
2) Intervensi dan Rasional
- Kaji status pernafasan, perhatikan tanda-tanda distres pernafasan
Mengidentifikasi adanya gangguan pada pola ataupun frekuensi pernafasan
- Pertahankan kenetralan suhu tubuh pada 36-37o C
Stres dingin meningkatkan konsumsi oksigen bayi, dapat meningkatkan asidosis dan selanjutnya kerusakan produksi surfaktan
- Observasi terhadap tanda dan lokasi sianosis
Sianosis merupakan tanda lanjut dari penurunan PO2 dan tidak tampak sampai ada sedikit lebih dari 3 g/dl penurunan Hb
- Berkolaborasi dalam pemberian oksigen
Hipoksemia dapat berlanjut menurunkan produksi surfaktan, meningkatkan tahanan vaskular pulmonal dan vasokontriksi.
c. Resti hipotermia atau hipertermia b/d perubahan suhu lingkungan
1) Tujuan : mempertahankan suhu kulit 36-37,3o C
bebas dari tanda-tanda stres dingin
2) Intervensi dan Rasional
- Kaji suhu dengan sering
Hipotermia membuat bayi cenderung pada stres dingin, penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbaharui bila ada dan penurunan sensitivitas untuk meningkatkan kadar karbondioksida ataupun oksigen.
- Gunakan lampu pemanas selama prosedur dan berikan selimut
Menurunkan kehilangan panas pada lingkungan yang lebih dingin dari ruangan
- Ganti pakaian atau linen tempat tidur bila basah. Pertahankan kepala bayi tetap tertutup
Menurunkan kehulangan melalui evaporasi
- Berikan penghangatan bertahap untuk bayi dengan stres dingin
Peningkatan suhu tubuh yang cepat dapat menyebabkan konsumsi oksigen berlebihan dan apnea.
d. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d simpanan glikogen, zat besi dan kalsium tidak cukup, metabolisme yang tinggi, hilangnya kalori dan asupan kalori yang tidak adekuat.
1) Tujuan : mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan BB dalam kurva normal, dengan peningkatan BB sedikitnya 20-30 gr/hari
2) Intervensi dan Rasional
- Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan
Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi
- Mulai pemberian makan sementara atau dengan menggunakan selang sesuai indikasi
Pemberian makan per slang mungkin perlu untuk memberikan nutrisi yang adekuat pada bayi
- Masukkan asi/formula dengan perlahan selama 20 menit pada kecepatan 1 ml/mnt
Pemasukkan makana yang terlalu cepat ke dalam lambung dapat menyebabkan respon balik cepat dengan regurgitasi, peningkatan resiko aspirasi dan distensi abdomen

e. Resti kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan berlebihan, peningkatang suhu lingkungan, ginjal imatur
1) Tujuan : bebas dari tanda-tanda dehidrasi atau glikosuria dengan masukan cairan sama dengan haluaran
2) Intervensi dan Rasional
- Dapatkan seri BB setiap hari dengan skala yang sama pada waktu yang sama
BB merupakan indikator paling sensitif dari keseimbangan cairan
- Bandingkan masukan dan haluaran cairan setiap shift dalam periode 24 jam
Haluaran harus 1-3 ml/kg/jam, sementara kebutuhan terapi cairan ± 80-100 ml/kg/hari pada hari pertama kehidupan, meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari pada hari ketiga pasca-kelahiran
- Evaluasi turgor kulit, membran mukosa dan fontanel anterior
Kehilangan/perpindahan cairan yang minimal dapat dengan cepat menimbulkan dehidrasi, terlihat oleh turgor kulit yang buruk, membran mukosa kering dan fontanel cekung.
- Pantau pemeriksaan laboratorium Ht
dehidrasi meningkatkan kadar Ht di atas nilai normal 45%-53%
- Berikan cairan paenteral
Penggantian cairan menambah volume darah
f. Resti injuri b/d retardasi pertumbuhan intra uteri
1) Tujuan : bebas dari kejang dan tanda-tanda kerusakan SSP
2) Intervensi dan Rasional
- kaji upaya pernafasan. perhatikan adanya pucat atau sianosis
distres pernafasan dan hipoksia mempengaruhi fungsi serebral dan dapat merusak atau melemahkan dinding pembuluh darah serebral, meningkatkan resiko ruptur
- ukur lingkar kepala, sesuai indikasi
membantu mendeteksi kemungkinan peningkatan TIK atau hidrosefalus, yang mungkin merupakan akibat dari hemoragi subdural
- berikan oksigen
hipoksemia meningkatkan resiko kelemahan atau kerusakan SSP yang permanen
























BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu Bayi Prematur atau Bayi Pre-Term dan Bayi Dismatur. Bayi prematur adalah bayi yang berumur kehamilan 37 minggu tanpa memperhatikan berat badan. Sebagian besar bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram adalah bayi prematur. Sedangkan bayi dismatur adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk masa kehamilannya, yaitu berat badan dibawah persentil 0 pada kurva pertumbuhan intra uterin, bisa disebut dengan bayi kecil untuk masa kehamilan.
Ada tiga faktor yang menjadi penyebab kelahiran bayi BBLR, yakni faktor ibu yang meliputi toksemia gravidarum, yaitu preeklampsi dan eklampsi, kelainan bentuk uterus (misalnya uterus bikornis, inkompeten serviks), tumor (misalnya mioma utery, sistoma), ibu yang menderita penyakit seperti tifus abdominalis, malaria, TBC, penyakit jantung, serta gromerulonefritis kronis, juga adanya trauma pada masa kehamilan antara lain, baik fisik maupun psikologis. Faktor berikutnya adalah faktor janin yang meliputi kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini, cacat bawaan, Infeksi (misalnya rubeoll, sifilis, toksoplasmosis), insufisiensi plasenta, Inkomptibilitas darah ibu dan janin ( faktor Rhessus, golongan darah A,B dan O). Faktor lainnya yaitu faktor plasenta, meliputi plasenta previa dan solutio plasenta.
Tanda klinis atau penampilan yang tampak sangat bervariasi, bergantung pada usia kehamilan saat bayi dilahirkan. Makin prematur atau makin kecil umur kehamilan saat dilahirkan makin besar pula perbedaannya dengan bayi yang lahir cukup bulan.
B. Saran
Penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita, menambah ilmu pengetahuan serta wawasan bagi para pembaca khususnya bagi mahasiswa keperawatan, namun penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi perbaikan makalah selanjutnya.





























DAFTAR PUSTAKA

Surasmi, Asrining.2003.Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta:EGC
Sacharin, Rosa M.1996.Prinsip Keperawatan Pediatrik.Jakarta:EGC
Ilyas, Jumarni.1994.Asuhan Keperawatan Perinatal.Jakarta:EGC
Doenges, Marilynn E.2001.Rencana Perawatan Maternal/Bayi : Pedoman untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien.Jakarta:EGC
http://italina89.wordpress.com/2008/05/87/penyakit-pada-bayi-baru-lahir

Makalah Batu Ginjal

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Batu saluran kemih menurut tempatnya digolongkan sebagai batu ginjal dan batu kandung kemih. Batu ginjal merupakan keadaan tidak normal didalam ginjal,mengandung komponen kristal dan matriks organik. Lokasi batu ginjal dijumpai khas dikaliks atau pelvis dan bila akan keluar dapat berhenti di ureter atau dikandung kemih. Batu ginjal sebagian besar mengandung batu kalsium fosfat,secara bersama dijumpai sampai sebesar 65-85% dari jumlah keseluruhan batu ginjal.
Batu ginjal merupakan penyebab terbanyak kelainan saluran kemih. Dinegara maju seperti amerika serikat, eropa , Australia, batu saluran kemih banyak dijumpai disaluran kemih baagian atas, sedang dinegara berkembang seperti india, Thailand, dan Indonesia lebih banyak dijumpai batu kandung kemih. Didaerah semarang, sejak tahun 1979 proporsi batu ginjal dijumpai relative meningkat dibanding proporsi batu kandung kemih. Peningkatan kejadian batu pada saluran kemih bagian atas terjadi diabad ke-20, khususnya didaerah bersuhu tinggi dan dari Negara yang sudah berkembang. Epidemiologi batu saluran kemih bagian atas dinegara berkembang dijumpai ada hubungan yang erat dengan perkembangan ekonomi serta dengan peningkatan pengeluaran biaya untuk kebutuhan makanan per-kapita.
Dibeberapa rumah sakit di Indonesia dilaporkan ada perubahan proporsi batu ginjal dibanding batu saluran kemih bagian bawah. Dari hasil analisis jenis batu ginjal di laboratorium patologi klinik universitas Gadjah Mada skitar tahun 1964 dan 1974, dijumpai kenaikan proporsi batu ginjal dibanding proporsi batu kandung kemih. sekitar tahun 1964-1969 didapatkan proporsi batu ginjal sebesar 20% dan batu kandung kemih sebesar 80% tetapi pada tahun 1970-1974 batu ginjal sebesar 70% (101/144) dan batu kandung kemih 30% (43/144 batu).
Pada tahun 1983 dirumah sakit DR.Sardjito dilaporkan 64 pasien dirawat dengan batu saluran kemih, batu ginjal 75% dan batu kandung kemih 25%. Kejadian batu saluran kemih terdapat sebesar 57/10.000 pasien rawat inap. Pada tahun 1986 dilaporkan prevalensi batu dsaluran kemih sebesar 80/10.000 pasien rawat inap. Batu ginjal ditemukan 79 dari 89 pasien batu saluran kemih tersebut. Tampaknya proporsi batu ginjal relative stabil.
Dirumah sakit di Amerika Serikat kejadian batu ginjal dilaporkan sekitar 7-10 pasien untuk setiap 1.000 pasien rumah sakit dan insidensi dilaporkan 7-21 pasien untuk setiap 10.000 orang dalam setahun. Pengambilan batu tanpa operasi, dengan litotripsi (extra corporeal shockwave lithotripsy) atau penghancuran batu dilakukan pada beberapa pusat litotripsi.
B. Tujuan
Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui Konsep dasar medis dan Konsep dasar Keperawatan Batu ginjal
Tujuan Khusus
Adapun tujan dari penyusunan makalah ini yaitu :
1. Mahasiswa dapat mengetahui Definisi Batu Ginjal
2. Mahasiswa dapat mengetahui Klasifikasi Batu Ginjal
3. Mahasiswa dapat mengetahui Etiologi Batu Ginjal
4. Mahasiswa dapat mengetahui Patofisiologi Batu Ginjal
5. Mahasiswa dapat mengetahui Manifestasi Klinis Batu Ginjal
6. Mahasiswa dapat mengetahui Pemeriksaan diagnostik Batu Ginjal
7. Mahasiswa dapat mengetahui Penatalaksanaan Batu Ginjal
8. Mahasiswa dapat mengetahui Komplikasi Batu Ginjal Batu Ginjal
9. Mahasiswa dapat mengetahui Pengkajian Batu Ginjal
10. Mahasiswa dapat mengetahui Diagnosa Keperawatan Batu Ginjal
11. Mahasiswa dapat mengetahui Intervensi keperawatan dan Rasional Batu Ginjal

















BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR MEDIS
1. Definisi
Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentuk di dalam divertikel uretra.
Batu Ginjal di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).
Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu saluran kemih yang paling sering terjadi (Purnomo, 2000, hal. 68-69).
Batu ginjal terbentuk pada tubuli ginjal kemudian berada dikaliks, infudibulum, pelvis ginjal, dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal. Batu yang mengisi pielum dan lebih dari dua kaliks ginjal memberikan gambaran menyerupai tanduk rusa sehingga disebut batu staghorn. Kelainan atau obstruksi pada system pelvikalises ginjal (penyempitan infundibulum dan stenosis uretropelviks) mempermudah timbulnya batu saluran kemih.
Batu yang tidak terlalu besar didorong oleh peristaltic otot-otot system pelvikalises dan turun keureter menjadi batu ureter. Tenaga peristaltic ureter mencoba untuk mengeluarkan batu hingga turun kebulu-buli. Batu yang ukurannya kecil (<5mm) pada umumnya dapat keluar spontan sedangkan yang lebih besar seringkali berada diureter dan menyebabkan reaksi peradangan (periureteritis) serta menimbulkan obstruksi kronis berupa hidroureter atau hidronekrosis
2. Etiologi
Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu saluran kemih.
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik)
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.
1. Faktor Intrinsik, meliputi:
a. Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.
b. Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
c. Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita.
2. Faktor Ekstrinsik, meliputi:
a. Geografi; pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu)
b. Iklim dan temperatur
c. Asupan air; kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.
d. Diet; diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran kemih.
e. Pekerjaan; penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas fisik (sedentary life).
3. Manifestasi Klinis
a. Nyeri : pola tergantung pada lokasi sumbatan.
b. Batu ginjal menimbulkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi pelvis ginjal serta ureter proksimal yang menyebabkan kolik. Nyeri hilang setelah batu keluar.
c. Batu ureter yang besar menimbulkan gejala atau sumbatan seperti saat turun keureter (kolik ureter)
d. Batu kandung kemih menimbulkan gejala yang mirip sistitits.
e. Sumbatan : batu menutup aliran urine akan menimbulkan gejala infeksi saluran kemih : demam dan menggigil.
f. Gejala gastrointestinal : meliputi mual, muntah, diare, dan perasaan tidak enak diperut berhubungan dengan refluks reointestinal dan penyebaran saraf (ganglion celiac) antara ureter dan intestine.

4. Patofisiologi
Secara teoritis batu dapat terbentuk diseluruh saluran kemoh terutama pada tempat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urin (statis urin), yaitu system kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises ( stenosis uretero-pelvis), divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti pada hyperplasia prostat benigna. Sriktura, dan buli-buli neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang memudahkan terjadinya pembentukan batu. Batu terdiri atas kristal- kristal yang tersusun oleh bahan-bahan organic maupun anorganik yang terlalut didalam air urin. Kristal-kristal tersebut tetap dalam keadaan normal metastable(tetap terlarut) dan urin jika tidak ada keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal. Kristal-kristal yang saling mengadakan presipitasi membentuk inti batu(nukleasi) yang kemudian akan mengadakan agregasi, dan menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang lebih besar, meskipun ukurannya cukup besar, agregat Kristal masih rapuh dan belum cukup mampu membuntu saluran kemih, untuk itu agregat kristal menempel pada epitel saluran kemih. (membentuk pretense kristal) dan dari sini bahan-bahan lain diendapkan pada agregat itu sehingga membentuk batu yang cukup besar untuk menyumbat saluran kemih.
Kondisi metastable dipengaruhi oleh suhu pH larutan, adanya koloid didalam urin, konsentrasi solute didalam urin, laju aliran urin didalam saluran kemih, adanya korpus alienum didalam saluran kemih yang bertindak sebagai inti batu.
Lebih dari 18% batu saluran kemih terdiri atas batu kalsium, baik yang berikatan dengan oksalat maupun dengan fosfat, membentuk batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat; sedangkan sisanya berasal dari batu asam urat, batu magnesium amonum fosfat (batu infeksi), batu xanthyn, batu sistein dan batu jenis lainnya. Meskipun pathogenesis pembentukan batu-batu diatas hampir sama, tetapi suasana didalam saluran kemih yang memungkinkan terbentuknya jenis batu itu tidak sama. Dalam hal ini misalkan batu asam urat mudah terbentuk dalam suasananya asam, sedangkan batu magnesium amoniumfosfat terbentuk karena urin bersifat basah
5. Pemeriksaan Diagnistik
a. Pemeriksaan sedimen urine
Menunjukkan adanya leukositoria, hematuria,dan dijumpai Kristal-kristal pembentuk batu.
b. Pemeriksaan kultur urine
Menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea.
c. Pemeriksaan faal ginjal
Bertujuan untuk mencari kemungkinan terjadinya penurunana fungsi ginjal dan untuk mempersiapkan pasien menjalani pemeriksaan foto PIV. Perlu jugga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai factor penyebab timbulnya batu saluran kemih (antara lain kadar : Kalsium,oksalat,fosfat maupun urat didalam darah maupun dalam urin).
d. Foto polos abdomen
Pembuatan foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya batu radiopaq di saluran kemih. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat radio-opak dan paling sering dijumpai diantara batu jenis lain, sedangkan batu asam urat bersifat non opak (radio lusen)
e. Pielografi Intra Vena (PIV)
Pemeriksaan ini bertujuan menilai keadaan anatomi dan fungsi ginjal.selain itu PIV dapat mendeteksi adanya batu semi opak ataupun batu non opak yang tidak dapat terlihat oleh foto polos perut. Jika PIV belum dapat menjelaskan keadaan system saluran kemih akibat adanya penurunan fungsi ginjal sebagai penggantinya adalah pemeriksaan pielografi retrograde.
f. Ultrasonografi
USG dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan PIV,yaitu pada keadaan-keadaan : alergi terhadap kontras,faal ginjal yang menurun,dan pada wanita yang sedamh hamil.Pemeriksaan USG dapat menilai adanya batu diginjal,atau dibuli-buli(yang ditunjukkan sebagai echoic shadow), hidronefrosis,pionefrosis,atau pengkerutan ginjal. (Basuki B. Purnomo,hlmn 65-66)
6. Penatalaksanaan
Batu yang menimbulkan masalah pada saluran kemih secapatnya harus dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi untuk melakukan tindakan/terapi pada batu saluran kemih adalah jika batu telah menimbulkan: obstruksi, infeksi, atau harus diambil karena sesuatu indikasi sosial.
Obstruksi karena batu saluran kemih yang telah menimbulkan hidroureter atau hidronefrosis dan batu yang sudah menyebabkan infeksi saluran kemih, harus segera dikeluarkan. Kadangkala batu saluran kemih tidak menimbulkan penyulit seperti diatas tetapi diderita oleh seorang yang karena pekerjaannya (misalkan batu yang diderita oleh seorang pilot pesawat terbang) mempunyai resiko tinggi dapat menimbulkan sumbatan saluran kemih pada saat bersangkutan sedang menjalankan profesinya dalam hal ini batu harus dikeluarkan.
Batu dapat dikeluarkan dengan cara medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan endourologi, bedah laparaskopi, atau pembedahan terbuka.
1. Medikamentosa
Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang ukurannya kurang dari 5mm, diharapkan batu dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin dengan pemberian diuretikum, dan minum banyak supaya dapat mendorong batu keluar dari saluran kemih.
2. ESWL (extracorporeal Shockwave Lithotripsy)
Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertamakali oleh caussy pada tahun 1980.alat ini dapat memecah batu ginjal,batu ureter proksimal atau batu buli- buli tanpa melalui tindakan invasive dan tanpa pembiusan.batu dipecah menjadi fragmen- fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih.tidak jarang pecahan – pecahan batu yang sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri colic dan menyebabkan hematuria.
3. Endourologi
Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu,dan kemudian mengeluarkan dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke dalam,alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit(perkutan).proses pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik dengan memakai energy laser.beberapa tindakan endourologi itu adalah:
a. PNL(perkutaneus Nephro Litholapaxy) yaitu mengeluarkan batu yang berada didalam saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi kesistem kalises melalui insisi pada kulit.batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen- fragmen kecil
b. Litotripsi yaitu memecah batu buli –buli atau batu uretra dengan memasukkan alat pemecah batu (litotriptor)ke dalam buli- buli .pecahan batu dikeluarkan dengan evakuator elik
c. Uretroskopi atau Uretero-Renoskopi yaitu memasukkan alat ureteroskopi peruretra guna melihat keadaan ureter atau system pielo-kaliks ginjal.dengan memakai energy tertentu,batu yang berada dalam ureter maupun system pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan uteroskopi atau uterorenoskopi ini
d. Extraksi Dormia yaitu mengeluarkan ureter dengan menjaringnya melalui alat keranjang dormia
4. Bedah laparaskopi
Pembedahan laparaskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini sedang berkembang.Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter.
5. Bedah Terbuka
Diklinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk tindakan-tindakan endourologi,laparaskopi,maupun ESWL, Pengambilan batu masih dilakukan melalui pembedahan terbuka . Pembedahan terbuka itu antara lain adalah pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu pada saluran ginjal, dan ureterolitotomi untuk batu di ureter. Tidak jarang pasien harus menjalani tindakan nefrektomi atau pengambilan ginjal
Karena ginjalanya sudah tidak berfungsi dan berisi nanah (pionefrosis), korteksnya sudah sangat tipis, atau mengalami pengkerutan akibat batu saluran kemih yang menimbulkan obstruksi dan infeksi yang menahun. (Basuki B. Purnomo,hlmn 65-66)
7. Pencegahan
Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih, tindakan selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah upaya menghindari timbulnya kekambuhan. Angaka kekambuhan batu saluran kemih rata-rata 7% per Tahun atau kurang lebih 50% dalam 10 Tahun.
Pencegahan yang dilakukan adalah berdasarkan atas kandungan unsur yang menyusun batu salurran kemih yang diperoleh dari analisis batu. Pada umumnya pencegahan itu berupa : (1) menghindari dehidrasi dengan minum cukup dan diusahakan produksi urine sebanyak 2-3 liter per hari. (2) diet untuk mengurangi kadar zat-zat komponen pembentuk batu, (3) aktivitas harian cukup, dan (4) pemberian medikamentosa.
Beberapa diet yang dianjurkan untuk mengurangi kekambuhan adalah:
(1) Diet tinggi sisa basa
Diet ini diberikan kepada pasien yang menderita penyakit batu sistin dan asam urat. Komposisi makanan cukup kalori, protein, mineral, dan vitamin. Nilai gizi yang harus diberikan adalah kalori sebanyak 2.006; protein 55 g: karbohidrat 317 g; kalsium 0,8 g; besi 19,3 g; vitamin A 12,912 SI; tiamin 1,2 mg; dan vitamin C 299 mg.
Makanaan yang boleh diberikan :
1. Sumber hidrat arang : nasi, maksimum ½ gelas sehari, roti 4 potong, kentang, ubi, singkong, kue dari tepung maizena, hunkwe, topioka, agar-aagar, selai, dan sirop
2. Sumber protein hewani : daging 50 gr atau telur 2 butir sehari dan susu.
3. Lemak : minyak, mentega, dan margarine.
4. Sumber protein nabati : kacang-kacangan kering 25 gr, tahu, tempe, atau oncom 50 gr/hari.
5. Sayuran : semua jenis sayuran paling sedikit 300 gr/hari.
6. Buah0buahan : sari buah, the, kopi, dan coklat
(2) Diet rendah kalsium tinggi sisa asam
Diet ini diberikan kepada pasien batu kalsium ginjal. Asupan makanan yang baik untuk pasien yang menderita penyakit ini adalah kalori, protein, zat besi, vitamin A, tiamin, dan vitamin C yang cukup dengan syarat jumlah cairan 2.500 ml/hr dan rendah kalsium untuk menurunkan kadar kalsium dalam urine. Nilai gizi yang diberikan adalah kalori sebanyak 2.240, protein 63 g, lemak 54 g, karbohidrat 372 g, kalium 0,3 g, besi 16,8 mg, vitamin A 8.402 SI, tiamin 0,8 mg, dan vitamin C 130 mg.

Table
Diet rendah kalsium tinggi sisa asam
No Golongan Bahan Makanan Makanan yang
boleh diberikan Makanan yang tidak boleh Diberikan
1 Sumber Hidrat Arang Beras,roti,mie,makroni,dan tepung-tepungan Kentang,ubi,singkong,Biskuit
Dan kue-kue yang terbuat dari susu
2 Sumber Protein hewani Telur,daging,unggas,dan ikan tanpa tulang Susu,keju, udang,kepiting,ikan asin, sarden dan daging
3 Sumber protein nabati Tahu dan tempe maksimum 50gr/hari serta kacang-kacangan kering maksimum 25 gr/hari

4
Lemak
Minyak,mentega,dan
Margarine

5
Sayuran
Semua jenis sayuran, maksimum 200 gr/hari
Bayam,daun melinj,daun papaya daun lamtoro,daunt alas,daun katuk,daun kelor,jantung pisang,buah melinjo,sawi,dan leunca.

(3) rendah garam karena natriuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuri.
(4) rendah purin.
Diet ini diberikan kepada pasien yang menderita penyakit batu ginjal asam urat dan gout. Kadar purin makanan normal untuk pasien yang menderita penyakit ini adalah 600-1000 mg/hari. Diet rendah purin mengandung 120-1150 mg purin, cukup kalori, protein, mineral, dan vitamin, tinggi karbohidrat (karena karbohidrat membantu pengeluaran asam urat), sedang lemak (karena lemak cenderung menghambat pengeluaran asam urat), banyak cairan (untuk membantu mengeluarkan kelebihan asam urat).nilai gizi yang diberikan adalah kalori sebanyak 1.848; protein 51 gr; lemak 32 gr; karbohidrat 338 gr; kalsium 0,3 mg; besi 15,9 mg; vitamin A 8.642 SI; tiamin 0,8 mg; vitamin C 170 mg; dan purin 50-200 mg. (DR.Nursalam,M.Nurs,2006,hlmn 67)
8. Komplikasi
a. Sumbatan : akibat pecahan batu.
b. Infeksi : akibat diseminasi partikel batu ginjal atau bakteri akibat obstruksi.
c. Kerusakan fungsi ginjal : akibat sumbatan yang lama sebelum pengobatan dan pengangkatan batu ginjal.(DR.Nursalam,M.Nurs,2006,hlmn 67)
9. Penyimpangan KDM



























B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:
1) Aktivitas/istirahat:
a. Gejala:
a) Riwayat pekerjaan monoton, aktivitas fisik rendah, lebih banyak duduk
b) Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi
c) Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya (cedera serebrovaskuler, tirah baring lama
2) Sirkulasi
a. Tanda:
a) Peningkatan TD, HR (nyeri, ansietas, gagal ginjal)
b) Kulit hangat dan kemerahan atau pucat
3) Eliminasi
a. Gejala:
a) Riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya
b) Penurunan volume urine
c) Rasa terbakar, dorongan berkemih
d) Diare
b. Tanda:
a) Oliguria, hematuria, piouria
b) Perubahan pola berkemih
4) Makanan dan cairan:
a. Gejala:
a) Mual/muntah, nyeri tekan abdomen
b) Riwayat diet tinggi purin, kalsium oksalat dan atau fosfat
c) Hidrasi yang tidak adekuat, tidak minum air dengan cukup
b. Tanda:
a) Distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus
b) Muntah
5) Nyeri dan kenyamanan:
a. Gejala:
Nyeri hebat pada fase akut (nyeri kolik), lokasi nyeri tergantung lokasi batu (batu ginjal menimbulkan nyeri dangkal konstan)
b. Tanda:
a) Perilaku berhati-hati, perilaku distraksi
b) Nyeri tekan pada area ginjal yang sakit
6) Keamanan:
a. Gejala:
a) Penggunaan alkohol
b) Demam/menggigil
7) Penyuluhan/pembelajaran:
a. Gejala:
a) Riwayat batu saluran kemih dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK kronis
b) Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme
c) Penggunaan antibiotika, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinul, fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan inflamasi, sumbatan dan abrasi saluran kemih oleh pindahnya batu ditandai dengan
DS : Adanya nyeri
DO: Rasa tidak enak diperut,ekspresi wajah meringis, posisi menahan sakit, sulit tidur, dan istirahat dan berusaha mencari posisi untuk menghilangkan nyeri.
b. Gangguan Eliminasi urine berhubungan dengan sumbatan aliran urine oleh batu yang ditandai dengan:
DS : Adanya kesulitan untuk berkemih
DO: Sakit saat berkemih, urine tidak lancer dan hematuria
c. Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) berhubungan dengan mual/muntah (iritasi saraf abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi.
d. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi berhubungan dengan kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.
DS : Tidak memahami mengenai Proses penyakitnya
DO : Pasien kurang kooperatif dalam program pengobatan

3. Intervensi dan Rasional
Diagnosa Keperawatan 1
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri yang dirasakan klien dapat berkurang dengan kriteria hasil :
1. Klien dapat beradaptasi dengan nyeri
2. Ekspresi wajah rileks
3. Klien dapat tidur dan istirahat
Intervensi
I : Catat lokasi, lamanya/intensitas nyeri (skala 1-10) dan penyebarannya. Perhatiakn tanda non verbal seperti: peningkatan TD dan DN, gelisah, meringis, merintih, menggelepar
R : Membantu evaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan batu. Nyeri panggul sering menyebar ke punggung, lipat paha, genitalia sehubungan dengan proksimitas pleksus saraf dan pembuluh darah yang menyuplai area lain. Nyeri tiba-tiba dan hebat dapat menimbulkan gelisah, takut/cemas
I : Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan kepada staf perawatan setiap perubahan karakteristik nyeri yang terjadi.
R : Melaporkan nyeri secara dini memberikan kesempatan pemberian analgesi pada waktu yang tepat dan membantu meningkatkan kemampuan koping klien dalam menurunkan ansietas.
I : Bantu/dorong pernapasan dalam, bimbingan imajinasi dan aktivitas terapeutik
R : Mengalihkan perhatian dan membantu relaksasi otot
I : Bantu/dorong peningkatan aktivitas (ambulasi aktif) sesuai indikasi disertai asupan cairan sedikitnya 3-4 liter perhari dalam batas toleransi jantung.
R : Aktivitas fisik dan hidrasi yang adekuat meningkatkan lewatnya batu, mencegah stasis urine dan mencegah pembentukan batu selanjutnya
I : Perhatikan peningkatan/menetapnya keluhan nyeri abdomen
R : Obstruksi lengkap ureter dapat menyebabkan perforasi dan ekstravasasiurine ke dalam area perrenal, hal ini merupakan kedaruratan bedah akut
I : Kolaborasi pemberian obat sesuai program terapi:
a. Analgetik
b. Antispasmodik
c. Kortikosteroid
R : Analgetik (gol. narkotik) biasanya diberikan selama episode akut untuk menurunkan kolik ureter dan meningkatkan relaksasi otot/mental
a. Menurunkan refleks spasme, dapat menurunkan kolik dan nyeri.
b. Mungkin digunakan untuk menurunkan edema jaringan untuk membantu gerakan batu
Diagnosa keperawatan 2
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan aliran urine teratur, dengan criteria hasil
a. tidak adanya kesulitan berkemih
b.tidak sakit saat berkemih
c.urine lancar dan hematuria.
Intervensi :
I : Awasi asupan dan haluaran, karakteristik urine, catat adanya keluaran batu.
R: Memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi. Penemuan batu memungkinkan identifikasi tipe batu dan mempengaruhi pilihan terapi
I : Tentukan pola berkemih normal klien dan perhatikan variasi yang terjadi
R : Batu saluran kemih dapat menyebabkan peningkatan eksitabilitas saraf sehingga menimbulkan sensasi kebutuhan berkemih segera. Biasanya frekuensi dan urgensi meningkat bila batu mendekati pertemuan uretrovesikal
I : Dorong peningkatan asupan cairan
R : Peningkatan hidrasi dapat membilas bakteri, darah, debris dan membantu lewatnya batu
I : Observasi perubahan status mental, perilaku atau tingkat kesadaran
R : Akumulasi sisa uremik dan ketidak seimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada SSP
I : Pantau hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, BUN, kreatinin)
R : Peninggian BUN, kreatinin dan elektrolit menjukkan disfungsi ginjal
I : Berikan obat sesuai indikasi:
a) Asetazolamid (Diamox), Alupurinol (Ziloprim)
Meningkatkan pH urine (alkalinitas) untuk menurnkan pembentukan batu asam.
b) Hidroklorotiazid (Esidrix, Hidroiuril), Klortalidon (Higroton)
Mencegah stasis urine dan menurunkan pembentukan batu kalsium.
c) Amonium klorida, kalium atau natrium fosfat (Sal-Hepatika)
Menurunkan pembentukan batu fosfat
d) Agen antigout mis: Alupurinol (Ziloprim)
Menurnkan produksi asam urat.
e) Antibiotika
Mungkin diperlukan bila ada ISK
f) Natrium bikarbonat
Mengganti kehilangan yang tidak dapat teratasi selama pembuangan bikarbonat dan atau alkalinisasi urine, dapat mencegah pemebntukan batu.
g) Asam askorbat
Mengasamkan urine untuk mencegah berulangnay pembentukan batu alkalin
Diagnosa keperawatan 3
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi kekurangan volume cairan dengan kriteria hasil :
a. Turgor kulit elastis
b. CRT <2 detik
c. Bibir lembab
Intervensi dan rasional
I : Awasi asupan dan haluaran
R : Mengevaluasi adanya stasis urine/kerusakan ginjal
I : Catat insiden dan karakteristik muntah, diare
R : Mual/muntah dan diare secara umum berhubungan dengan kolik ginjal karena saraf ganglion seliaka menghubungkan kedua ginjal dengan lambung
I : Tingkatkan asupan cairan 3-4 liter/hari
R : Mempertahankan keseimbangan cairan untuk homeostasis, juga dimaksudkan sebagai upaya membilas batu keluar
I : Awasi tanda vital.
R : Indikator hidrasi/volume sirkulasi dan kebutuhan intervensi
I : Timbang berat badan setiap hari
R: Peningkatan BB yang cepat mungkin berhubungan dengan retensi
I : Kolaborasi pemeriksaan HB/Ht dan elektroli
R: Mengkaji hidrasi dan efektiviatas intervensi
I : Berikan cairan infus sesuai program terapi
R: Mempertahankan volume sirkulasi (bila asupan per oral tidak cukup)
I : Kolaborasi pemberian diet sesuai keadaan klien
R:Makanan mudah cerna menurunkan aktivitas saluran cerna, mengurangi iritasi dan membantu mempertahankan cairan dan keseimbangan nutrisi
I : Berikan obat sesuai program terapi (antiemetik misalnya Proklorperasin/ Campazin).
R : Antiemetik mungkin diperlukan untuk menurunkan mual/muntah
Diagnosa Keperawatan 4
Tujuan:Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat mengetahui mengenai penyakitnya dengan kriteria hasil :
a. Klien memahami mengenai proses penyakitnya
b. Klien mengetahui pengobatan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan batu ginjal
Intervensi Keperawatan
I : Tekankan pentingnya memperta-hankan asupan hidrasi 3-4 liter/hari
R : Pembilasan sistem ginjal menurunkan kesemapatan stasis ginjal dan pembentukan batu
I : Kaji ulang program diet sesuai indikasi
R : Jenis diet yang diberikan disesuaikan dengan tipe batu yang ditemukan
I : Diskusikan program obat-obatan, hindari obat yang dijual bebas
R : Obat-obatan yang diberikan bertujuan untuk mengoreksi asiditas atau alkalinitas urine tergantung penyebab dasar pembentukan batu
I : Jelaskan tentang tanda/gejala yang memerlukan evaluasi medik (nyeri berulang, hematuria, oliguria)
R : Pengenalan dini tanda/gejala berulangnya pembentukan batu diperlukan untuk memperoleh intervensi yang cepat sebelum timbul komplikasi serius
I : Tunjukkan perawatan yang tepat terhadap luka insisi dan kateter bila ada.
R : Meningkatakan kemampuan rawat diri dan kemandirian
















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Batu Ginjal di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).Pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan meliputi : Pemeriksaan faal ginjal , Pemeriksaan kultur urine , Pemeriksaan sedimen urine , Ultrasonografi, Foto polos abdomen, Pielografi Intra Vena (PIV)
B. Saran
Penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita, menambah ilmu pengetahuan serta wawasan bagi para pembaca khususnya bagi mahasiswa, namun penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi perbaikan makalah selanjutnya.
1. Untuk Dosen mata kuliah KMB III kami mengharapkan dapat disimpan di perpustakaan untuk bahan bacaan dan dijadikan literatur dalam pembuatan makalah selanjutnya.
2. Untuk Mahasiswa D III keperawatan UB kami mengharapkan makalah kami ini dapat dijadikan bahan bacaan yang menambah wawasan.

Makalah Struma

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Keseimbangan hormon penting untuk menjaga fungsi tubuh tetap normal. Jika terganggu, akan terjadi masalah kesehatan, termasuk penyakit gondok. Fungsi kelenjar gondok yang membesar dan metabolisme tubuh yang meningkat (hipermetabolisme) juga terkadang disertai kelelahan, jari-jari gemetar atau tremor dan mata menonjol. Terjadinya goiter atau penyakit gondok memang terkait kelainan yang menyerang kelenjar tiroid yang letaknya di depan leher di bawah jakun. Kelenjar ini menghasilkan hormon tiroid yang fungsinya mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh seseorang. Jika kelenjar kurang aktif memproduksi hormon, terjadilah defisiensi hormon. Begitu juga jika terlalu aktif, hormon yang dihasilkan akan berlebihan. Dua kondisi ketidaknormalan ini memicu perbesaran kelenjar yang hasil akhirnya antara lain penyakit gondok (struma endemik). Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia, dan tersebar hampir di seluruh provinsi. Survei Pemetaan GAKY tahun 1997/1998 menemukan 354 kecamatan di Indonesia merupakan daerah endemik berat. Kekurangan iodium ini tidak hanya memicu pembesaran kelenjar gondok, bisa juga timbul kelainan lain seperti kretinisme (kerdil), bisu, tuli, gangguan mental, dan gangguan neuromotor. Untuk itu, penting menerapkan pola makan sadar iodium sejak dini.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini
1. Untuk mengetahui Definisi Struma endemic
2. Untuk mengetahui klasifikasi Struma endemic
3. Untuk mengetahui Etiologi Struma endemic
4. Untuk mengetahui Patofisiologi Struma endemic
5. Untuk mengetahui Penyimpangan KDM struma endemic
6. Untuk mengetahui Manifestasi klinis Struma endemic
7. Untuk mengetahui Data penunjang Struma endemic
8. Untuk mengetahui Komplikasi Struma endemic
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan Struma endemic
10. Untuk mengetahui Konsep ASKEP Struma endemic yang meliputi Pengkajian,pemeriksaan fisik, diagnose keperawatan,intervensi dan rasional.




BAB II
ISI
A. Konsep Medis
1. Definisi
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme.
(Sri Hartini, Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, hal. 461, FKUI, 1987).

2. Klasifikasi
Struma nodusa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal, yaitu :
1.Berdasarkan jumlah nodul :
Bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa soliter (uninodosa) dan bila lebih dari satu disebut struma multinodosa.
2. Berdasarkan kemampuan menangkap iodium aktif, dikenal 3 bentuk nodul tiroid yaitu: nodul dingin,nodul hangat dan nodul panas.
3.Berdasarkan konsistensinya:
Nodul lunak, kistik, keras dan sangat keras.

3. Etiologi
Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain :
a. Defisiensi iodium
Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan. Pembentukan struma terjadi pada difesiensi sedang yodium yang kurang dari 50 mcg/d. Sedangkan defisiensi berat iodium adalah kurang dari 25 mcg/d dihubungkan dengan hypothyroidism dan cretinism.
b. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid.
c. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia
Phenolic dan phthalate ester derivative dan resorcinol berasal dari tambang batu dan batu bara.
Makanan, Sayur-Mayur jenis Brassica ( misalnya, kubis, lobak cina, brussels kecambah), padi-padian millet, singkong, dan goitrin dalam rumput liar.
d. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya : thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).
e. .Riwayat radiasi kepala dan leher : Riwayat radiasi selama masa kanak-kanak mengakibatkan nodul benigna dan maligna (Lee, 2004)
4. Patofisiologi
Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid.

5. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala yang dapat ditimbulkan oleh astruma endemic yaitu
a. Pembesaran pada leher yang dapat mengganggu nilai penampilan
b. Rasa tercekik di tenggorokan
c. Nyeri
d. Suara serak
e. Kesulitan menelan
f. Kesulitan bernafas.
g. Disfagia

6. Data penunjang
a. Pemeriksaan sidik tiroid
Hasil pemeriksaan dengan radioisotope adalah teraan ukuran, bentuk lokasi, dan yang utama ialah fungsi bagian-bagian tiroid. Pada pemeriksaan ini pasien diberi NaI peroral dan setelah 24 jam secara fotografik ditentukan konsentrasi yadium radioaktif yang ditangkap oleh tiroid.
Dari hasil sidik tiroid dapat dibedakan 3 bentuk, yaitu :
a. Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang dibandingkan sekitarnya.Hal ini menunjukkan fungsi yang rendah.
b. Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada sekitarnya. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
c. Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid yang lain.Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan apakah nodul itu ganas atau jinak.
b. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Dengan pemeriksaan USG dapat dibedakan antara yang padat, cair, dan beberapa bentuk kelainan, tetapi belum dapat membedakan dengan pasti apakah suatu nodul ganas atau jinak. Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG ialah :
a. Kista : kurang lebih bulat, seluruhnya hipoekoik sonolusen, dindingnya tipis.
b. Adenoma/nodul padat : iso atau hiperekoik, kadang-kadang disertai halo yaitu suatu lingkaran hipoekonik disekelilingnya.
c. Kemungkinan karsinoma : nodul padat, biasanya tanpa halo.
d. Tiroiditis hipoekoik, difus, meliputi seluruh kelenjar.
Pemeriksaan ini dibandingkan pemeriksaan sidik tiroid lebih menguntungkan karena dapat dilakukan kapan saja tanpa perlu persiapan, lebih aman, dapat dilakukan pada orang hamil atau anak-anak, dan lebih dapat membedakan antara yang jinak dan ganas.
c. Biopsi aspirasi jarum halus
Biopsy ini dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Biopsy aspirasi jarum halus tidak nyeri, hamper tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Kerugian pemeriksaan dengan cara ini adalah dapat memberikan hasil negative palsu karena lokasi biopsy kurang tepat, teknik biopsy kurang benar, pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena salah interpretasi aleh ahli sitologi.
d. Termografi
Termografi adalah metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada suatu tempat dengan memakai Dynamic Telethermography. Pemeriksaan ini dilakukan khusus pada keadaan panas dengan sekitarnya > 0.9C dan dingin > 0.9C. pada penelitian Alves dkk, didapatkan bahwa pada yang ganas semua hasilnya panas. Pemeriksaan ini paling sensitive dan spesifik bila dibanding dengan pemeriksaan lain.
Khususnya pada penegakan diagnosis keganasan, menurut Gobien, ketepatan diagnosis gabungan biopsy, USG, dan sidik tiroid adalah 98 %

7. Komplikasi
Komplikasi tiroidektomi
1. Perdarahan.
2. Masalah terbukanya vena besar dan menyebabkan embolisme udara.
3. Trauma pada nervus laryngeus recurrens.
4. Memaksa sekresi glandula ini dalam jumlah abnormal ke dalam sirkulasi dengan tekanan.
5. Sepsis yang meluas ke mediastinum.
6. Hipotiroidisme pasca bedah akibat terangkatnya kelenjar para tiroid.
7. Trakeumalasia (melunaknya trakea).

8. Penatalaksanaan
a. Dengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan berat.
b. Edukasi
Program ini bertujuan merubah prilaku masyarakat, dalam hal pola makan dan memasyarakatkan pemakaian garam beriodium.
c. Penyuntikan lipidol
Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc, sedang kurang dari enam tahun diberi 0,2 cc – 0,8 cc.

d. Penatalaksanaan Bedah
Indikasi untuk eksplorasi bedah glandula tiroidea meliputi :
1. Terapi : pengurangan masa fungsional dan pengurangan massa yang menekan.
2. Ekstirpasi :penyakit keganasan.
3. Paliasi : eksisi massa tumor yang tidak dapat disembuhkan, yang menimbulkan gejala penekanan mengganggu.

a. Reseksi Subtotal
Reseksi subtotal akan dilakukan identik untuk lobus kanan dan kiri, dengan mobilitas sama pada tiap sisi. Reseksi subtotal dilakukan dalam kasus struma multinodular toksik, struma multinodular non toksik.
Prinsip reseksi untuk mengeksisi sebagian besar tiap lobus, yang memotong pembuluh darah tiroidea superior, vena + hyroidea media dan vena tiroidea inferior utuh. Bagian kelenjar yang dieksisi merupakan sisi anterolateral tiap lobus, isthmus dan lobus piramidalis. Ligasi pembuluh darah tiroidea superior harus hati-hati untuk tidak mencederai ramus externus nervus laryngeus superior dapat menimbulkan perubahan suara yang bermakna.
Sisa thyroidea dari lobus kiri harus sekitar 3 sampai 4 gram. Ini dapat dinilai dengan menilai berbagai ukuran thyroidea pada timbangan. Lobus dapat dieksisi lengkap dengan memotong isthmus atau ia dapat dijaga kontinyu dengan isthmus yang dikupas bebas dari tracea di bawahnya.
b. Lobektomi Total
Dilakukan untuk tumor ganas glandula tiroidea dan bila penyakit unilobaris yang mendasari tidak pasti.
Bila dilakukan pengupasan suatu lobus, untuk tumor ganas maka pembuluh darah tiroidea superior, vena tiroidea media dan vena tiroidea inferior perlu dipotong. Glandula paratiroidea dan nervus laryngeus diidentifikasi dan dilindungi. Lobus tiroidea diretraksi ke medial dengan dua glandula paratiroidea terlihat dekat cabang terminal fasia (ligamentum Berry). Nervus ini diidentifikasi sebagai struktur putih tipis yang berjalan di bawah ligamentum dan biasanya di bawah cabang terminal arteria tiroidea inferior.
Pada sejumlah tumor ganas seperti varian folikularis dan meduler direkomendasikan lobektomi total bilateral dengan pengupasan kelenjar limfe sentral.
Pengobatan untuk nodul tiroid yang bukan tiroiditis atau keganasan :
- Apabila didapatkan nodul hangat, dapat diberikan preparat l-thyroxin selama 4-5 bulan dan kemudian sidik tiroid dapat diulang. Apabila nodul mengecil maka terapi dapat diteruskan namun apabila tidak mengecil dilakukan biopsi aspirasi atau operasi.
- Nodul panas dengan diameter < 2,5 cm observasi saja, tetapi kalau > 2,5 mm terapinya ialah operatif karena dikhawatirkan mudah timbul hipertiroidisme.





B. Konsep ASKEP
1. Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat ; insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat,atrofi otot.
b. Eliminasi ; urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.
c. Integritas ego ; mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi.
d. Makanan/cairan ; kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid, goiter.
e. Rasa nyeri/kenyamanan ; nyeri orbital, fotofobia.
f. Pernafasan ; frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea, edema paru (pada krisis tirotoksikosis).
g. Keamanan ; tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptalmus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
h. Seksualitas ; libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
- Posisi penderita duduk dengan leher terbuka, sedikit hiperekstensi.
- Pembengkakan :
• bentuk : - diffus atau lokal
• ukuran : besar dan kecil
• permukaan : halus atau modular
• keadaan : kulit dan tepi
• gerakan : pada waktu menelan.
Adanya pembesaran tiroid dapat dipastikan dengan menelan ludah dimana kelenjar tiroid akan mengikuti gerakan naik turunnya trakea untuk menutup glotis. Karena tiroid dihubungkan oleh ligamentum cartilago dengan thyroid yaitu ligamentum Berry.
b. Palpasi
- Diperiksa dari belakang dengan kepala diflexikan diraba perluasan dan tepinya.
- Ditentukan lokalisasi benjolan terhadap trakea (mengenai lobus kiri, kanan atau keduanya).
- Ditentukan ukuran (diameter terbesar dari benjolan).
- Konsistensi (lunak, kistik, keras atau sangat keras).
- Mobilitas.
- Infiltrasi terhadap kulit/jaringan sekitar.
- Pembesaran kelenjar getah bening disekitar tiroid : ada atau tidak.
- Nyeri pada penekanan atau tidak.
c. Perkusi
- Jarang dilakukan
- Hanya untuk mengetahui apakah pembesaran sudah sampai ke retrosternal.
d. Auskultasi
- Jarang dilakukan
- Dilakukan hanya jika ada pulsasi pada pembengkakan.

3. Diagnosa keperawatan
1. Pola napas tak efektif berhubungan dengan penekanan kelenjar tiroid terhadap trachea
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat akibat disfagia
3. Perubahan citra diri berhubungan dengan perubahan bentuk leher
4. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.


5. Gangguan rasa aman : Ansietas berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit ,pengobatanya / persepsi yang salah tentang penyakit yang diderita.
6. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan edema pasca operasi.
4. Intervensi dan rasional
Diagnosa 1 ;
Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah aspirasi.
Intervensi dan rasional
a. I / Pantau frekuensi pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan.
R / Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi berkembangnya distres pada pernafasan merupakan indikasi kompresi trakea karena edema atau perdarahan.
b. I / Auskultasi suara nafas, catat adanya suara ronchi.
R/ Ronchi merupakan indikasi adanya obstruksi.spasme laringeal yang membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat.
c. I / Kaji adanya dispnea, stridor, dan sianosis. Perhatikan kualitas suara.
R / Indikator obstruksi trakea/spasme laring yang membutuhkan evaluasi dan intervensi segera.
d. I / Waspadakan pasien untuk menghindari ikatan pada leher, menyokong kepala dengan bantal.
R / Menurunkan kemungkinan tegangan pada daerah luka karena pembedahan.
e. I / Bantu dalam perubahan posisi, latihan nafas dalam dan atau batuk efektif sesuai indikasi.
R / Mempertahankan kebersihan jalan nafas dan evaluasi. Namun batuk tidak dianjurkan dan dapat menimbulkan nyeri yang berat, tetapi hal itu perlu untuk membersihkan jalan nafas.
f. I / Lakukan pengisapan lendir pada mulut dan trakea sesuai indikasi, catat warna dan karakteristik sputum.
R / Edema atau nyeri dapat mengganggu kemampuan pasien untuk mengeluarkan dan membersihkan jalan nafas sendiri.
g. I / Lakukan penilaian ulang terhadap balutan secara teratur, terutama pada bagian posterior
R / Jika terjadi perdarahan, balutan bagian anterior mungkin akan tampak kering karena darah tertampung/terkumpul pada daerah yang tergantung.
h. I / Selidiki kesulitan menelan, penumpukan sekresi oral.
R / Merupakan indikasi edema/perdarahan yang membeku pada jaringan sekitar daerah operasi.
Diagnosa 2
Tujuan yang ingin dicapai : Mendemonstrasikan berat badan stabil atau penambahan berat badan progresif kearah tujuan dengan normalisasi dan bebas dari tanda malnutrisi.
Intervensi dan rasional
a. Kaji status nutrisi secara kontinu, selama perawatan setiap hari perhatikan tingkat energy,keinginana untuk makan dan anoreksia
R / Memberikan kesempatan untuk mengobservasi penyimpanagn dari normal/dari dasar pasien dan mempengarui pilihan intervensi.
b. I / Timbang berat badan setiap hari dan bandingkan dengan berat badan saat penerimaan
R / membuat data dasar , membantu dalam memntau keefektifan atursn terapeutik,dan menyadarkan perawat terhadap ketidaktepatan kecenderungan dalam penurunan berat badan.
c. I / Dokumentasikan masukan oral selama 24 jam,riwayat makanan,jumlah kaloori yang tepat.
R / Mengidentifikasi keseimbangan antara perkiraan kebutuhan nutrisi dan masukan actual.
d. I / berikan larutan nutrisi pada kecepatsn yang dianjurkan melalui alat control infuse sesuai kebutuhan.Atur kecepatan pemberian per jam sesuai anjuran.
R / ketentuan dukungan nutrisi didasarkan pada perkiraan kebutuhan kalori dan protein. Kecepatan konsisten dari pemberian nutrisi akan menjamin penggunaan tepat dengan efek samping lebih sedikit

Diagnosa 3
Tujuan: mengungkapkan penerimaan terhadap keadaan diri sendiri diungkapkan secara verbal
I/ Kaji pandangan klien terhadap penampilan dirinya
R/ Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang kekurangan dan kelebihan yang dimiliki memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatakan kemajuan kesehatannya.
I/ Bina hubungan saling percaya
R/ Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi yang teraupetik perawat dan klien.
I/ Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya tentang penyakit yang diderita
R/Ungkapan perasaan klien kepada perawat sebagai bukti bahwa klien mulai mempercayai perawat.
I/ Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
R/ Memberikan hal yang positif atau pengakuan akan meningkatkan harga diri klien


Diagnosa 4
Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat dipahami
Intervensi dan rasional
a. I / Kaji fungsi bicara secara periodik.
R / Suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan atau kerusakan karena pembedahan pada saraf laringeal yang berakhir dalam beberapa hari kerusakan saraf menetap dapat terjadi kelumpuhan pita suara atau penekanan pada trakea.
b. I / Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak.
R / Menurunkan kebutuhan berespon, mengurangi bicara.
c. I / berikan metode komunikasi alternatif yang sesuai, seperti papan tulis, kertas tulis/papan gambar.
R / Memfasilitasi eksprsi yang dibutuhkan.
d. I / Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. Kunjungan pasien secara teratur.
R / Menurunnya ansietas dan kebutuhan pasien untuk berkomunias.
e. I / Beritahu pasien untuk terus menerus membatasi bicara dan jawablah bel panggilan dengan segera.
R / Mencegah pasien bicara yang dipaksakan untuk menciptakan kebutuhan yang diketahui/memerlukan bantuan.
f. I / Pertahankan lingkungan yang tenang.
R / Meningkatkan kemampuan mendengarkan komunikasi perlahan dan menurunkan kerasnya suara yang harus diucapkan pasien untuk dapat didengarkan.

Diagnosa 5
Tujuan : klien tampak rileks, melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi, mampu mengidentifikasi cara hidup yang sehat untuk membagikan perasaannya

I/ Kaji tingkat kecemasan dengan skala 0-5.
R/Pengkajian yang dilakukan menegaskan bahwa rasa cemas yang dirasakan berhubungan dengan krisis situasi yang dialami oleh klien.
I/Berikan lingkungan yang menyenangkan agar klien dapat isirahat
R/Suasana sekitar lingkungan yang nyaman dapat meningkatkan periode istirahat klien dan kenyamanan psikologis
I/Observasi tanda – tanda vital setiap 8 jam
R/Perubahan pada tanda-tanda vital (peningkatan denyut nadi/frekuensi pernapasan) menunjukkan tingkat ansietas yang dialami pasien atau merefleksikan gangguan-gangguan faktor psikologis misalnya ketidakseimbangan endokrin.
I/Berikan obat ansietas (tranzquilizer, sedatif) dan pantau efeknya
R/dapat digunakan bersamaan dengan pengobatan untuk menurunkan pengaruh dari sekresi hormon tiroid yang berlebihan

Diagnosa 6
Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. Menunjukkan kemampuan mengadakan relaksasi dan mengalihkan perhatian dengan aktif sesuai situasi.
Intervensi dan rasional
a. I / Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal, catat lokasi, intensitas (skala 0 – 10) dan lamanya.
R / Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan intervensi, menentukan efektivitas terapi.
b. I / Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala/leher dengan bantal pasir/bantal kecil.
R / Mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas gari jahitan.
c. I / Pertahankan leher/kepala dalam posisi netral dan sokong selama perubahan posisi. Instruksikan pasien menggunakan tangannya untuk menyokong leher selama pergerakan dan untuk menghindari hiperekstensi leher.
R / Mencegah stress pada garis jahitan dan menurunkan tegangan otot.
d. I/ Letakkan bel dan barang yang sering digunakan dalam jangkauan yang mudah.
R / Membatasi ketegangan, nyeri otot pada daerah operasi.
e. I / Berikan minuman yang sejuk/makanan yang lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan.
R / Menurunkan nyeri tenggorok tetapi makanan lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan.
f. I / Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi, seperti imajinasi, musik yang lembut, relaksasi progresif.
R / Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien untuk mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman secara lebih efektif.
Kolaborasi
a. I / Beri obat analgetik dan/atau analgetik spres tenggorok sesuai kebutuhannya.
b. I / Berikan es jika ada indikasi












BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran dari kelenjar tiroid yang berbatas jelas dan tanpa gejala-gejala hipertiroidi.Klasifikasi dari struma nodosa non toksik didasarkan atas beberapa hal yaitu berdasarkan jumlah nodul, berdasarkan kemampuan menangkap iodium aktif dan berdasarkan konsistensinya.Etiologi dari struma nodosa non toksik adalah multifaktorial namun kebanyakan struma diseluruh dunia diakibatkan oleh defisiensi yodium langsung atau akibat makan goitrogen dalam dietnya.Gejala klinis tidak khas biasanya penderita datang dengan keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan tanpa keluhan hipo atau hipertiroidi.
Diagnosis ditegakkan dari hasil anamnesa. Pemeriksaan sidik tiroid, pemeriksaan USG, Biopsi Aspirasi Jarum Halus (Bajah), termografi, dan petanda Tumor (tumor marker).Penatalaksanaan meliputi terapi dengan l-thyroksin atau terapi pembedahan yaitu tiroidektomi berupa reseksi subtotal atau lobektomi total.Komplikasi dari tindakan pembedahan (tiroidektomi) meliputi perdarahan, terbukanya vena besar dan menyebabkan embolisme udara, trauma pada nervus laryngeus recurrens, sepsis, hipotiroidisme dan traceomalasia.
B. Saran
Penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita, menambah ilmu pengetahuan serta wawasan bagi para pembaca khususnya bagi mahasiswa, namun penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi perbaikan makalah selanjutnya.
1. Untuk Dosen mata kuliah KMB III kami mengharapkan dapat disimpan di perpustakaan untuk bahan bacaan dan dijadikan literatur dalam pembuatan makalah selanjutnya.
2. Untuk Mahasiswa D III keperawatan UB kami mengharapkan makalah kami ini dapat dijadikan bahan bacaan yang menambah wawasan.